spot_img
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

POS TERKAiT

Jelang Long Weekend, Dinsos Bandung Perketat Penertiban Tunawisma di Titik Rawan

BANDUNG | ONEDIGINEWS.COM – Menjelang long weekend, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung akan mengintensifkan penertiban dan penanganan tunawisma, gelandangan, serta pengemis guna menjaga ketertiban, kenyamanan, dan citra kota.

Kepala Dinsos Kota Bandung, Yorisa Sativa, menjelaskan bahwa kelompok tunawisma umumnya terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu gelandangan, pengemis, dan pemulung.

Berdasarkan data Dinsos, jumlah tunawisma mengalami peningkatan pada 2025. Gelandangan tercatat sebanyak 156 jiwa, naik dari 113 jiwa pada 2024. Dari jumlah tersebut, 129 jiwa telah dijangkau Unit Social Response (USR), sementara 27 jiwa belum terjangkau.

Jumlah pengemis mencapai 223 jiwa, meningkat dari 188 jiwa pada tahun sebelumnya, dengan 184 jiwa telah mendapatkan penanganan. Sementara itu, pemulung tercatat 57 jiwa, naik dari 41 jiwa pada 2024.

Yorisa menyebut mayoritas tunawisma berasal dari luar Kota Bandung, terutama dari Kabupaten Bandung, Garut, dan Bandung Barat. Bahkan, pada 2025 terdapat 10 tunawisma yang berasal dari luar Pulau Jawa.

“Sebaran mereka ada di sekitar 16 hingga hampir 20 titik rawan, terutama di kawasan strategis dan pusat aktivitas kota,” ujar Yorisa di Kantor Dinsos Kota Bandung, Kamis (15/1/2026).

Beberapa lokasi yang kerap menjadi tempat mangkal antara lain Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Merdeka, Taman Vanda, Jalan Riau–Lombok, Naripan–Tamblong, Taman Saparua, Taman Lalu Lintas, Simpang Lima–Asia Afrika, Braga, dan Cihampelas.

Menurut Yorisa, keberadaan tunawisma berpotensi menimbulkan persoalan sosial, mulai dari kesehatan, ketertiban, hingga menurunnya estetika kota. Selain itu, praktik mengemis secara memaksa juga sering dikeluhkan warga.

Untuk itu, Pemkot Bandung melakukan penanganan terpadu bersama Satpol PP, Damkar, DLH, DPKP, DP3A, dan pemerintah kewilayahan. Dalam waktu dekat akan digelar operasi gabungan beautifikasi kota mulai Jumat dini hari hingga Minggu, dilanjutkan patroli siang dan sore.

Tunawisma yang terjaring akan dibawa ke rumah singgah untuk menjalani rehabilitasi sosial dan bimbingan mental-spiritual selama tujuh hari. Selanjutnya akan dilakukan asesmen untuk menentukan tindak lanjut, seperti reunifikasi keluarga, pemulangan daerah asal, atau rujukan ke lembaga sosial.

Yorisa mengakui sebagian tunawisma kembali ke jalan karena faktor ekonomi. Oleh sebab itu, Dinsos akan menggencarkan edukasi agar masyarakat tidak memberi uang di jalan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak memberi di jalan karena justru memperpanjang masalah,” tegasnya.

Ia menambahkan, langkah ini juga bertujuan menjaga kenyamanan wisatawan selama libur panjang agar Bandung tetap bersih, aman, dan tertib.

Popular Articles