spot_img
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

POS TERKAiT

Pemkab Bekasi Pulihkan Irigasi Pertanian Melalui Normalisasi Saluran Sekunder BKG

BEKASI | ONEDIGINEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Bekasi bersama Perum Jasa Tirta (PJT) II melakukan normalisasi Saluran Sekunder (SS) Bendung Kedung Gede (BKG) di wilayah Kecamatan Pebayuran sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabanjir sekaligus mengoptimalkan kembali fungsi irigasi pertanian.

Normalisasi dilakukan pada bentang saluran sepanjang kurang lebih 25 kilometer, mulai dari BKG 15 hingga BKG 40. Meski mencakup wilayah yang cukup panjang, pelaksanaan kegiatan difokuskan pada titik-titik yang dinilai paling urgent dan kritis.

Camat Pebayuran, Hasyim Adnan Adha, mengatakan bahwa normalisasi tersebut sangat penting dalam penanganan dampak banjir, terutama terhadap sektor pertanian masyarakat di wilayah hilir.

“Normalisasi ini bertujuan agar air irigasi kembali dapat mengairi seluruh area persawahan, khususnya sawah-sawah di wilayah hilir seperti Desa Karangharja dan Desa Karangsegar,” ujarnya, Selasa (10/02/2026).

Dalam pelaksanaannya, kegiatan normalisasi melibatkan berbagai unsur lintas sektor. Selain Kecamatan Pebayuran, turut terlibat Koramil 11 Pebayuran, Polsek Pebayuran, pemerintah desa terkait, BBWS Citarum, PJT II, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK), Kementerian Pertanian, serta masyarakat setempat.

“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pihak agar penanganan pascabanjir ini berjalan efektif dan dapat segera diselesaikan secara maksimal,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hasyim menambahkan bahwa normalisasi saluran telah dimulai sejak akhir Januari 2026 dan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu bulan.

“Dalam pelaksanaannya, dua alat berat diturunkan, yakni satu unit excavator dari PJT II yang beroperasi di titik BKG 16 dan satu unit excavator dari DSDABMBK di titik BKG 26,” ungkapnya.

Melalui sinergi lintas instansi tersebut, diharapkan proses normalisasi dapat segera memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya para petani, sekaligus menjadi langkah antisipatif untuk mengurangi potensi banjir serta gangguan irigasi di masa mendatang.

Popular Articles