KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM |Aliansi Mahasiswa Pemuda Pangkal Perjuangan (AMPERA) menggelar aksi protes di depan gerbang Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang.
Aksi ini dipicu oleh mencuatnya dugaan intimidasi, penghambatan akademik, hingga ancaman kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh oknum pejabat kampus terhadap mahasiswa kritis tersebut.
Ketua Koordinator Aliansi Pangkal Perjuangan (AMPERA) , Kelvin Hudqof, mengungkapkan bahwa iklim demokrasi di lingkungan UBP Karawang saat ini sedang tidak sehat.
Menurutnya, hal ini bermula sejak adanya perubahan struktur kepemimpinan di Lembaga Hukum dan Komunikasi Kampus (LHKK).
“Awalnya kami hanya menjadikan kampus sebagai titik kumpul konsolidasi untuk aksi di Pertamina. Namun, hal ini dipermasalahkan secara sepihak, padahal sebelumnya tidak pernah ada larangan,” ujar Kelvin saat diwawancarai di lokasi aksi, Kamis (9/6/2026).
Kelvin membeberkan salah satu tindakan intimidasi yang dilakukan oleh oknum berinisial Y.
Kelvin mengaku dirinya nyaris menjadi korban kekerasan fisik saat memenuhi undangan pertemuan di pihak yayasan.
Ia menyebutkan bahwa niat baiknya untuk berdialog justru dibalas dengan makian.
“Saya datang dengan niat baik untuk menghargai undangan. Saya bahkan bersedia memindahkan titik kumpul aksi agar tidak di kampus. Tapi di sana saya malah dimaki dan diancam akan dipukul oleh Y. Ketua Yayasan pun ikut terpancing emosi karena laporan sepihak dari Y tersebut,” jelas Kelvin.
Dalam aksi tersebut, AMPERA membawa tiga poin tuntutan kepada pihak rektorat,
1. Evaluasi Copot. Meminta rektorat segera mengevaluasi dan mencopot Y dan dari jabatannya sebagai Ketua LHKK.
2. Harmonisasi Ormawa. Meminta Rektor dan jajaran bidang kemahasiswaan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) sebagai mitra, bukan musuh.
3. Transparansi Menuntut keterbukaan informasi dan kemudahan bagi mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi
Lantaran tidak ada pihak rektorat yang menemui massa aksi, Kelvin menegaskan pihaknya akan membawa persoalan ini ke ranah yang lebih tinggi.
“Kami akan bersurat resmi ke dewan pembina. Selain itu, kami juga berencana melaporkan segala bentuk intimidasi dan pelanggaran kode etik ini ke LLDIKTI. Jika tidak ada tanggapan, kami akan kembali dengan massa yang lebih besar,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang belum memberikan keterangan resmi terkait tuduhan yang dilayangkan oleh aliansi mahasiswa tersebut.
Reporter : Nina Melani Paradewi





