Karawang, Onediginews.com – Ratusan warga dari beragam latar belakang memadati Graha GKP Immanuel Karawang pada Kamis (12/3/2026) dini hari.
Sejak pukul 02.00 WIB, suasana keharomisan dalam nuansa sahur terasa berbeda karena diwarnai dialog kebangsaan bersama Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam agenda Sahur Keliling 2026 yang digagas komunitas GUSDURian Karawang.
Mengangkat tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum ibadah di bulan suci Ramadan, tetapi juga jadi ruang refleksi atas berbagai persoalan sosial dan kebangsaan yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia.
Isu bencana alam, ketimpangan sosial, hingga dinamika demokrasi menjadi latar diskusi dalam forum tersebut.
Sekitar 400 orang dari berbagai latar belakang hadir. Mereka terdiri atas pejabat daerah, tokoh lintas agama, pegiat komunitas, santri, serta kelompok masyarakat marjinal seperti tukang becak, buruh, pengamen, pemulung, hingga penyandang disabilitas.
Kebersamaan lintas iman dan lintas kelas sosial menjadi ciri khas kegiatan sahur yang selama ini rutin digelar.
Ketua panitia, Ahmad Rohiman, menegaskan bahwa Sahur Keliling bukan sekadar acara seremoni biasa. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi sosial di masyarakat di tengah tantangan demokrasi yang sedang dihadapi.
“Sahur ini menjadi ruang untuk menjaga nilai demokrasi. Dari sinilah kita belajar untuk bisa memahami satu sama lain. Karena demokrasi bukan hanya identik pada proses politik, namun juga pada keberanian untuk membela masyarakat yang lemah dan warga rentan,” ucap pria yang akrab di sapa Kang Iman.
Hal senada disampaikan Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Setempat (PGIS) Karawang, Pendeta Agus Paulus Husen.
Ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap momentum sahur bersama mampu mempererat kebersamaan lintas iman di Karawang untuk menjaga keharmonisan maupun kemanusiaan.
“Kami senang bisa menjadi tuan rumah acara Sahur Keliling dan menyambut Ibu Shinta, banyak masyarakat dari berbagai elemen yang hadir, semoga keharmonisan ini bisa terus kita jaga,” katanya.
Dalam sesi dialog, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai ruang merangkul keberagaman.
Shinta Nuriyah membuka orasinya dengan sebuah tantangan reflektif, mengajak audiens bersikap terbuka saat menjawab pertanyaan, “Siapa yang jujur?” Pertanyaan pemantik ini menjadi pintu masuk bagi beliau untuk menekankan bahwa kejujuran bukan sekadar kata-kata, melainkan fondasi utama bagi kesejahteraan hidup.
Menurutnya, nilai integritas harus menjadi kompas moral dalam keseharian, baik saat berurusan dengan diri sendiri maupun dalam berinteraksi dengan orang lain.
Istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid itu juga menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi kemajemukan yang saling menguatkan.
“Keberagaman adalah kekuatan kita. Ramadan harus menjadi momentum untuk merangkul semua, tanpa memandang agama, suku, maupun status sosial,” tuturnya di hadapan forum.
Ia juga menegaskan bahwa ibadah puasa seharusnya tidak dipandang sebagai ritual seremonial tahunan belaka. Sebaliknya, esensi dari ibadah tersebut terletak pada kemampuannya untuk mentransformasi karakter dan perilaku individu menjadi lebih positif.
“Puasa harus revolusioner. Ia mengubah sikap dan perilaku menjadi lebih baik hingga mencapai ketakwaan,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan diawali penampilan Barongsai dari Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Karawang sebagai simbol keberagaman.
Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Subhanul Wathon, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta sambutan dari panitia dan tuan rumah.
Suasana haru dan khidmat menyelimuti akhir acara saat lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Bagimu Negeri berkumandang. Momen ini menjadi pengingat bagi seluruh hadirin untuk terus berjuang demi kemajuan tanah air. Harapannya, semangat kejujuran dan persatuan yang digaungkan dapat terus menginspirasi kita semua dalam menjaga kedaulatan Indonesia yang bhinneka.
Melalui Sahur Keliling 2026, GUSDURian Karawang berharap solidaritas sosial di Karawang semakin kuat dan mampu berkontribusi pada gerakan kebangsaan yang lebih luas.




