KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kabupaten Karawang kembali mengalami lonjakan pasien ekstrem (overload).
Fenomena yang berlangsung intensif dalam sebulan terakhir ini mayoritas didominasi oleh pasien usia anak yang terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Meskipun kapasitas tempat tidur IGD telah diperluas dari 30 bed menjadi 41 bed, lonjakan pasien tetap tidak terbendung.
Dari total kapasitas tersebut, keterisian IGD sempat menyentuh angka 55 pasien dalam sehari.
Dampaknya, sekitar 15 pasien harus mengantre penanganan di luar tempat tidur utama, bahkan beberapa di antaranya tertahan menanti giliran masuk di dalam ambulans desa maupun kendaraan pengangkut rujukan.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Karawang, dr. Parlindungan, mengungkapkan bahwa tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) rumah sakit secara keseluruhan telah menyentuh angka 90 hingga 95 persen.melampaui batas ambang normal ideal pelayanan rumah sakit di angka 80 persen.

“Memang betul belakangan ini IGD kita sering overload. Yang dahulu hanya 30 bed, sekarang alhamdulillah berkat bantuan pemerintah daerah, kita bisa membuat gedung IGD baru dengan kapasitas 41 tempat tidur. Tapi per hari ini saja ada 55 pasien di IGD, sementara total bangsal terisi 362 pasien. Artinya ada sekitar 15 pasien yang berada di luar kapasitas bed utama,” ujar dr. Parlindungan saat ditemui di RSUD Karawang.
dr. Parlindungan membeberkan bahwa lonjakan paling krusial terjadi pada kelompok pasien anak-anak. Secara harian, kasus penyakit saluran pernapasan menyumbang sekitar 30 persen dari total kunjungan pasien rumah sakit.
“Saat ini tingkat keterisian untuk ruangan anak itu hampir setiap hari 100 persen penuh. Dulu tidak sampai segini, makanya yang paling banyak datang ke IGD juga pasien-pasien anak. Kami juga mendapat informasi dari rekan-rekan medis luar daerah bahwa kasusnya terjadi bersamaan,” paparnya.
Mengenai pemicu medis di balik meroketnya kasus ISPA ini, manajemen RSUD Karawang mengindikasikan faktor cuaca ekstrem dan kondisi lingkungan yang tak menentu sebagai salah satu penyebab utama.
“Penyebab pastinya tentu perlu penelitian lebih lanjut. Kemarin dari pihak provinsi juga sudah meminta data terkait lonjakan kasus ISPA ini. Keadaan cuaca dan lingkungan saat ini udaranya kering dan banyak debu, sehingga memudahkan penyebaran virus atau bakteri melalui udara,” jelas dr. Parlindungan.
Guna mengatasi penumpukan di lorong IGD, RSUD Karawang mengambil langkah taktis melalui fleksibilitas atau relaksasi alokasi ruangan. Bangsal perawatan dewasa yang masih menyisakan tempat dialihfungsikan sementara (shift) untuk penanganan anak-anak.

Selain itu, manajemen menegaskan komitmen pelayanan bagi masyarakat tanpa membedakan status ekonomi maupun kepesertaan BPJS Kesehatan, yang mendominasi hingga 98 persen dari total pasien.
“Kita pasien BPJS-nya itu 98 persen. Tidak ada pasien dibeda-bedakan untuk umum atau perusahaan. Pokoknya ada ruang kosong, kita isi! Pasien dewasa bisa kita shift menjadi perawatan anak. Pasien kelas 3 kalau ruangan yang kosong kelas 1 atau kelas 2, langsung kita masukkan naik kelas (upgrade) agar mereka sementara terlayani dulu,” tegasnya.
Menanggapi isu yang beredar di masyarakat mengenai batasan durasi rawat inap pasien BPJS Kesehatan, dr. Parlindungan mematahkan anggapan bahwa pasien harus dipulang-paksakan atau ditahan hingga durasi tertentu.
“Di kami tidak ada batasan minimal atau maksimal rawat, tidak ada aturan harus 3 hari atau 5 hari baru boleh pulang. Semua berdasarkan keputusan klinis. Rata-rata lama rawat kita ada di angka 4,5 hari. Kalau kondisi pasien sudah stabil dan secara medis layak pulang, baru diperbolehkan pulang,” terangnya.
Mengenai keluhan durasi tunggu di IGD, ia meluruskan bahwa ketatnya kriteria penempatan ruangan kerap dikarenakan spesifikasi medis yang tidak bisa dicampur.
“Kadang pasien melihat ada ruangan kosong, padahal ruangan itu baru dipakai pasien TBC/infeksi yang harus disterilisasi dulu. Atau yang kosong ruangan bayi, kan tidak mungkin dewasa masuk ke sana. Begitu juga ruangan perawatan kritis dan semi-kritis yang butuh pengawasan khusus. Jadi bukan ditunda-tunda, tapi ada kekhususan kebutuhan ruangan yang harus disesuaikan,” tambahnya.
Di tengah keterbatasan kapasitas fisik rumah sakit rujukan tipe B ini, dr. Parlindungan menyampaikan sejumlah harapan besar, baik kepada mitra fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, maupun masyarakat luas.
Pihak RSUD Karawang sangat berharap Puskesmas dan klinik swasta di tingkat pertama dapat memaksimalkan penanganan kasus ISPA kategori ringan atau tanpa komplikasi.
“Harapan kami mekanisme rujukan berjenjang bisa berjalan efektif. Kalau kasus ISPA-nya masih ringan, mohon dapat diatasi terlebih dahulu di FKTP, Puskesmas, atau RS tipe C. Kecuali jika sudah ada kondisi pemberat seperti asma akut atau pneumonia, barulah dirujuk ke RSUD Karawang,” tutur dr. Parlindungan.
RSUD Karawang mengharapkan adanya penguatan koordinasi lintas sektor dalam mengedukasi masyarakat mengenai alur rujukan serta peningkatan kapabilitas fasilitas kesehatan rawat inap di tingkat kecamatan.
“Kami juga menghimbau para orang tua dan masyarakat untuk memperketat langkah pencegahan mandiri di rumah ” ungkapny didampingi Kabid Pelayanan Medik.
“Kami sangat berharap masyarakat dapat meningkatkan pola hidup sehat. Di musim kemarau dan udara kering ini, perbanyak minum air putih, konsumsi makanan bergizi dan sayuran, serta istirahat yang cukup. Jika memungkinkan, lakukan vaksinasi influenza, terutama untuk melindungi anak-anak dan lansia yang sistem kekebalan tubuhnya masih rentan,” pungkas dr. Parlindungan.
Reporter : Nina Melani Paradewi







