KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Alih-alih menyantap makanan sehat bergizi gratis (MBG) bergizi tinggi, sejumlah siswa SMKN 2 Karawang dibuat mual dan jijik setelah menemukan “bonus” tak diundang di dalam sebuah ompreng makanan seorang siswa. Seekor ulat kecil berwarna hitam yang bersarang di balik sayur sawi hijau.
Temuan mengejutkan ini mencuat pada Selasa (6/10/2026) setelah santapan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangpawitan 4 dibagikan kepada para siswa.

Ironisnya, ulat tersebut baru disadari keberadaannya ketika makanan sudah disantap seorang siswa di bagian pertengahan.
“Awalnya saya mau makan sayurannya. Baru sadar di pertengahan makan, ada ulatnya,” ungkap salah seorang siswa di SMKN 2 Karawang.
Menanggapi insiden menjijikkan ini, pihak pengelola SPPG Karangpawitan 4 melalui Asisten Lapangan, Nani, didampingi Kepala SPPG Burhanudin, ketika dikonfirmasi awak media melontarkan pembelaan.
Ia berdalih bahwa pihaknya telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) pencucian dan perendaman air garam hingga tiga kali tahapan sortir sebelum sayuran tersebut diolah. Dan kepala produksi (Kepala SPPG) selalu hadir melakukan pengawasan dari pukul 02.00 hingga 04.00 pagi.
Namun, alih-alih memberikan jaminan mutu yang ketat, pengelola justru terkesan menyepelekan temuan tersebut dengan menyebut keberadaan ulat sebagai hal yang “wajar” karena sayuran yang digunakan diklaim bebas pestisida.
“Kalau pada kenyataannya masih ada satu-dua mah, mungkin wajar ya. Karena memang sayuran kita justru tidak mengandung bahan-bahan berbahaya, tidak mengandung pestisida. Jadi kalau ada ulat, itu ulat sayur, menurut saya kalau cuma satu kelolosan, masih bisa dimaklumi lah,” cetus Nani.
Pernyataan ini sontak memicu tanda tanya besar?. Apakah standar keamanan pangan nasional untuk anak-anak penerima manfaat ini cukup ditoleransi dengan alasan “kelolosan”?.
Di sisi lain, pihak sekolah langsung bergerak cepat melarang para siswa untuk melanjutkan memakan menu sayur tersebut begitu laporan diterima.
Melalui humas sekolah Susi, memastikan bahwa pihaknya langsung mendesak SPPG untuk memperketat Quality Control (QC) agar insiden serupa tidak terulang.
Reporter : Nina Melani Paradewi







