spot_img
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img
spot_img
spot_img

POS TERKAiT

Waspada Musim Hujan, UPTD Perikanan dan Peternakan Sumedang Kota Edukasi Peternak Cegah Bloat dan Cacingan

spot_img

SUMEDANG | ONEDIGINEWS.COM | Memasuki musim penghujan, Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Sumedang melalui UPTD Perikanan dan Peternakan Wilayah Sumedang Kota sosialisasikan tata cara pemberian pakan ternak yang aman.

Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi meningkatnya risiko penyakit cacingan serta gejala kembung atau tympani (bloat) yang kerap menyerang hewan ternak akibat mengonsumsi rumput basah.

Kasubag TU UPTD Perikanan dan Peternakan Wilayah Sumedang Kota, Abdul Rohman, menyampaikan bahwa rumput yang dipanen pada pagi hari di musim hujan memiliki kelembapan tinggi dan masih diselimuti embun (ibun). Jika langsung diberikan kepada ternak tanpa dilayukan terlebih dahulu, rumput tersebut dapat memicu penumpukan gas berlebih di dalam perut serta menjadi media masuknya parasit cacing.

“Saya sebagai Kasubag UPTD Perikanan dan Peternakan Wilayah Sumedang Kota mengimbau kepada masyarakat, khususnya para peternak, untuk menjaga agar tidak terjadi penyakit cacing dan kembung, maka disarankan memperhatikan cara pemberian pakan. Untuk cara pemberian pakan, tidak boleh langsung diberikan pakan itu ke ternaknya, melainkan harus dilayukan dulu. Biasanya pakan yang hari ini diambil, harus besok dikasihkan, jadi biar kadar airnya turun dan parasit cacingnya bisa hilang,” ujar Abdul, saat di konfirmasi. Rabu, (04/11/2026).

Selain melayukan pakan hijauan yang baru disabit, Abdul juga menyarankan para peternak untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh hewan ternaknya melalui pemberian obat cacing serta vitamin secara rutin setiap tiga bulan sekali.

Risiko Kematian dan Larangan Pemberian Antibiotik

Lebih lanjut, Abdul menjelaskan bahwa kasus kembung (bloat) di wilayahnya saat ini paling banyak ditemukan pada komoditas ternak kambing dan domba. Meski jarang terjadi, penyakit ini terkadang juga ditemukan pada ternak sapi yang umumnya dipicu oleh pemberian pakan tambahan (comboran) yang sudah asam.

Ia menegaskan bahwa gejala kembung pada ternak tidak boleh dianggap remeh karena memiliki risiko kematian ternak. Abdul juga mengingatkan para peternak agar tidak sembarangan memberikan antibiotik saat ternaknya mengalami gejala kembung.

“Kelihatannya itu penyakit sepele, tapi bisa mematikan. Risiko tinggi untuk penyakit kembung atau bloat ini karena dari cara pengobatannya sebenarnya tidak ada obat khusus selain menjaga agar tidak terjadi kembung. Seandainya sudah terjadi penyakit kembung di ternak itu sendiri, kalau dikasih antibiotik justru bisa mematikan,” tegasnya.

Langkah Penanganan Medis dan Pertolongan Pertama

Terkait penanganan apabila ternak sudah terlanjur mengalami kembung, Abdul menjelaskan bahwa tindakan penyelamatan dapat dilakukan melalui pemberian obat khusus hingga tindakan medis darurat oleh petugas di lapangan.

“Cara alternatifnya itu dikasih obat bloat (anti-kembung) yang dicekokkan, atau dikasih antihistamin sama vitamin untuk pengobatan dan daya tahan tubuhnya. Untuk menghilangkan kembung itu, kadang-kadang kalau sudah parah bisa di-trokar, yaitu ditusuk di bagian samping perutnya biar keluar gasnya. Terus juga dipalpasi, dikeluarkan kotorannya dan udaranya dari dubur atau anusnya biar keluar gasnya dulu, jangan sampai ternak itu makin parah sakitnya,” jelas Abdul menerangkan prosedur penanganan medis yang pernah dilakukan pihaknya.

Di samping tindakan medis tersebut, peternak juga dapat melakukan penanganan alternatif secara mandiri sebagai pertolongan pertama untuk membantu mengeluarkan gas dari perut ternak.

“Ternak itu juga bisa dikasih alternatif seperti rujak asem, minuman air kelapa, atau dibawa jalan-jalan buat menghilangkan kembungnya,” tambahnya.

Optimalisasi Penyuluhan Lapangan

Guna menekan angka kasus penyakit ternak di musim penghujan, UPTD Perikanan dan Peternakan Wilayah Sumedang Kota rutin menjadwalkan kegiatan monitoring dan penyuluhan kesehatan ternak secara langsung ke kelompok-kelompok peternak maupun desa-desa.

Menurutnya, sosialisasi tersebut turut disampaikan melalui forum minggon desa maupun minggon kecamatan agar informasi tersebut dapat diteruskan oleh para kepala desa kepada masyarakat dan kelompok ternaknya.

“Apabila ada gejala tersebut, masyarakat khususnya di wilayah Sumedang Kota bisa langsung menghubungi UPTD Wilayah Kota. Di sana ada petugasnya, baik dokter hewan maupun mantrinya yang siap menangani,” pungkas Abdul.

 

Reporter : Rizky Prasetyo

Popular Articles

Popular Articles