spot_img
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img
spot_img
spot_img

POS TERKAiT

Indonesia Murojaah Edukasi Orang Tua soal Menjaga Hafalan Al-Qur’an Anak-anak

spot_img

TANGERANG SELATAN | ONEDIGINEWS.COM | Menjaga hafalan Al-Qur’an pada anak tidak cukup hanya dengan memastikan anak mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Peran orang tua dalam mendampingi murojaah, membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta memberikan teladan di lingkungan keluarga menjadi bagian penting dalam menjaga hafalan tersebut.

Hal itu menjadi salah satu pesan dalam Talk Show Orang Tua Hafidz Qur’an bertajuk “Aku Tidak Mau Kehilangan Mahkota Surgaku: Menjaga Hafalan Anak, Menjaga Amanah Al-Qur’an” yang digelar Indonesia Murojaah di Masjid Al Muhajirin, Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu (6/9/2026).

Kegiatan yang didukung DKM Masjid Al Muhajirin tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman di bidang tahfiz, Al-Qur’an, dan pembinaan keluarga. Talk show tersebut menjadi ruang edukasi bagi para orang tua mengenai pentingnya menjaga hafalan sekaligus menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an.

Founder Indonesia Murojaah, Deden Muhammad Makhyaruddin, menjadi salah satu narasumber utama. Deden merupakan Juara 1 Tahfizh Tafsir 30 Juz Internasional di Maroko tahun 2011.

Selain Deden, hadir Ibrahim, Ketua Kaltim Murojaah sekaligus Juara 1 Tafsir Bahasa Inggris Nasional tahun 2024, serta Wahidah, Keluarga Sakinah Teladan tingkat nasional.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Lubenah Amir, juga turut hadir dan menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga.

Lubenah mengatakan, Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga perlu dipahami, dihafalkan, dan diamalkan. Karena itu, umat Islam perlu membangun kebiasaan untuk senantiasa dekat dengan Al-Qur’an.

“Al-Qur’an per huruf nya bisa jadi pahala untuk kita. Apalagi memahami, menghafal, apalagi mengamalkannya. Maka kita sebagai umatnya, kitab suci itu harus dekat dengan kita, minimal baca setiap hari,” ujar Lubenah, pada Minggu (6/9/2026).

Menurutnya, kebiasaan tersebut akan lebih mudah tumbuh pada diri anak apabila orang tua memberikan contoh secara langsung.

Orang tua, kata dia, harus menjadi teladan karena anak cenderung melihat dan meniru kebiasaan yang dilakukan di lingkungan keluarga.

“Orang tua harus jadi teladan, harus jadi role model. Orang tua saja banyak memegang handphone. Bagaimana anak mau meniru dan suka memegang Al-Qur’an?” katanya.

Lubenah juga menekankan bahwa peran orang tua, khususnya ibu, sangat penting dalam membentuk kebiasaan dan pendidikan anak sejak dini. Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang akan membentuk kebiasaan anak, termasuk dalam membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an.

“Al-Ummu Madrasatul Ula,” tuturnya.

Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan Lubenah dengan tantangan orang tua di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, kebiasaan anak menggunakan telepon seluler perlu diimbangi dengan perhatian orang tua agar anak tetap memiliki waktu untuk membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

“Tapi hari ini, dengan zaman yang begitu pesat teknologinya, kita lupa mengingatkan putra-putri kita untuk memegang Al-Qur’an karena tiap hari memegang HP,” pungkasnya.

Meski demikian, Lubenah menilai teknologi tidak harus selalu menjadi penghalang bagi anak untuk dekat dengan Al-Qur’an. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu anak mengakses dan membaca Al-Qur’an.

“Tapi jangan kalah, di HP ada aplikasi mushaf Al-Qur’an juga,” katanya.

Lebih lanjut, Lubenah menilai menjaga hafalan anak merupakan bagian dari upaya mempertahankan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an. Menurutnya, murojaah perlu dilakukan secara rutin dan mendapatkan dukungan dari orang tua agar hafalan yang telah dimiliki anak tetap terjaga.

“Kecintaan kita kepada Al-Qur’an harus kita jaga. Putra-putri kita, kecintaannya juga harus dijaga. Murojaah tiap hari, dengar, harus dijaga. Itu kebanggaan bagi kita sebagai orang tua,” ucap Lubenah.

Lubenah juga mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi Deden Muhammad Makhyaruddin tersebut. Ia menilai kegiatan semacam ini penting karena memberikan ruang bagi masyarakat untuk kembali mempelajari dan merenungkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupan.

“Terima kasih, Ustaz Deden, sebagai Founder Indonesia Murojaah, sudah menginisiasi kegiatan hari ini. Kita melihat, mempelajari, merenungkan apa yang menjadi petunjuk kita. Kegiatan ini menjadi penting bagi kita semua, apalagi yang menginginkan mahkota di surga,” kata Lubenah.

Ia berharap kegiatan yang mendorong masyarakat untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak keluarga. Menurutnya, mendekatkan umat kepada kitab suci merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

“Amanah Menteri Agama, kita semua harus mendekatkan diri kita kepada petunjuk hidup kita, kitab suci kita. Kalau semua umat beragama dekat kepada kitab sucinya, akan seperti apa yang menjadi petunjuk,” jelasnya.

Lubenah menegaskan kembali, Kementerian Agama tidak dapat menjalankan upaya membangun kehidupan keagamaan dan kerukunan seorang diri. Keterlibatan masyarakat, termasuk majelis taklim, dinilai menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.

“Pastinya kami di Kementerian Agama tidak mesti sendiri. Kami semua dibantu oleh bapak dan ibu semua untuk menciptakan kerukunan. Majelis taklim, itu semua menjadi instrumen, menjadi ummatan wasathan,” tutupnya.

Popular Articles

Popular Articles