KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Empat belas tahun lalu, menyebut nama wilayah Galuh Mas saat matahari terbenam sudah membuat bulu kuduk berdiri.
Kabar yang beredar di masyarakat saat itu melukiskan wilayah ini tak lebih dari hamparan rawa berair dan semak belukar lebat.
“Dulu boro-boro ada yang berani lewat kalau sudah maghrib. Gelap gulita. Orang -orang khususnya orang sini nyebutnya kawasan galuh mas itu sebagai tempat buang jin atau jalur hitam buat yang suka cari pesugihan tuyul dan nomor togel, karena jaman itu SDSB atau Kode Buntut sedang populer,” kenang Abah Yana (63), salah satu warga asli sekitar Telukjambe Timur yang menjadi saksi hidup transformasi kawasan tersebut. Sambil tertawa kecil, ia membandingkan ingatannya dengan hiruk-pikuk lalu lintas Galuh Mas hari ini.
Roda tata ruang Karawang pun berputar drastis. Karawang Central Plaza (KCP) Mall pun menancapkan fondasinya 14 tahun silam.
Kehadiran mal terbesar di Karawang saat itu bertindak bak sebuah jangkar yang memecah kesunyian rawa semak belukar mistis menjadi mesin ekonomi baru yang agresif.
Bagaikan efek domino, berdirinya KCP memicu ledakan infrastruktur. Ruko-ruko komersial menjamur, klaster perumahan mewah merangsek masuk, hingga hadirnya Hotel Bintang Empat (4) yakni Hotel Mercure.
Rawa yang dulunya disinyalir sebagai tempat “buang jin” itu kini menjelma menjadi pusat perputaran investastasi dan uang miliaran rupiah.
KCP Mall pun tumbuh bersama Kabupaten Karawang. Rahasia umur panjangnya terletak pada kemampuannya merangkul denyut nadi ekonomi masyarakat menengah ke bawah.
Karawang adalah kota industri, tulang punggung ekonominya adalah ratusan ribu buruh dan pekerja pabrik yang membutuhkan ruang rekreasi sekaligus tempat belanja yang masuk akal.
KCP Mal hadir menjawab kebutuhan tersebut tanpa membuat kantong pekerja jebol.
KCP Mal tidak mengisolasi diri sebagai menara gading yang eksklusif, melainkan menjadi ruang publik yang inklusif.
“Malnya besar, tapi harganya merakyat. Apalagi kalau sudah masuk bulan puasa mau Lebaran, KCP itu sudah pasti jadi tujuan utama orang Karawang cari baju. Diskonnya banyak, pilihannya melimpah, dan pas dengan gaji pekerja pabrik,” ujar Rini (34), seorang karyawati pabrik yang rutin menjadikan mal ini sebagai destinasi belanja tahunan keluarganya.
“Selain itu, food court tempat kulinerannya pun ramah dikantong, lengkap semua juga ada,” tambahnya.
KCP telah menjadi saksi bisu tradisi berburu baju Lebaran yang tak tergantikan. Di saat pusat perbelanjaan lain berlomba menawarkan merek high-end, KCP mempertahankan keseimbangan tenant yang benar-benar dibutuhkan oleh warga lokal.

Warga merasa diterima, dari urusan memborong pakaian di department store, makan bersama keluarga di restoran-restoran ternama atau jajan jajanan UMKM lokal Karawang, hingga sekadar jalan-jalan sore menikmati suasana mal tanpa harus menguras dompet.
Satu dekade berlalu, tren Mal berubah jadi mati suri melanda industri pusat perbelanjaan secara global maupun nasional.
Bahkan, Tak sedikit mal di berbagai daerah—bahkan beberapa di Karawang yang berguguran, bangkrut, atau sepi bak kuburan akibat gempuran e-commerce dan pergeseran gaya hidup.
Tapi, di sinilah letak magisnya KCP Mal. Di tengah badai kebangkrutan mal lain dan gempuran mal baru yang lebih modern, KCP menolak mati dan tetap berdiri gagah.
KCP Mal berhasil mengunci sesuatu yang tak bisa dibeli oleh mal baru, yakni, ikatan emosional warga.
Mal ini tumbuh bersama dinamika kota. KCP Mal bukan lagi sekadar tempat transaksi, melainkan ruang kolektif yang menyimpan memori banyak keluarga di Karawang.
“Sebagai warga asli, saya sangat apresiasi. KCP ini yang bikin kampung kita terang, jalanan jadi ramai, dan banyak warga sekitar yang akhirnya bisa buka usaha di sekitarnya. Kalau ingat dulu ini tempat apa, rasanya kayak keajaiban saja melihat Galuh Mas sekarang,” tutup Abah Yana dengan nada bangga.
Di usianya yang ke-14, “KCP Tumbuh Bersama Karawang” terbukti bukan sekadar slogan di atas kertas.
Dari hamparan rawa mistis menuju mahkota perbelanjaan kelas pekerja yang tak tergoyahkan, KCP Mall membuktikan bahwa eksistensi sejati sebuah ruang publik diuji dari seberapa besar ia bermanfaat bagi warganya.
Penulis : Nina Melani Paradewi








