KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Momen peringatan Hari Jadi Karawang ke-393 menjadi momentum refleksi tajam bagi civitas akademika dan publik luas.
Di tengah usia kabupaten yang kian matang, sorotan keras dialamatkan langsung ke jantung perguruan tinggi kebanggaan daerah, Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika).
Adalah Sony Hersona, seorang dosen Unsika yang juga putra daerah Karawang, melontarkan kritik pedas namun konstruktif terkait arah kebijakan dan kondisi infrastruktur kampus.
Dengan mengusung semangat historis dan tanggung jawab moral, ia mengingatkan para pemegang kebijakan di Unsika agar tidak melupakan akar sejarah berdirinya kampus tersebut.
Sony mengingatkan, lahirnya Unsika pada masa lalu bukan sekadar proyek akademis instan, melainkan buah dari keringat dan kepedulian tokoh masyarakat Karawang.
Pada era tersebut, impian anak-anak golongan bawah, termasuk ASN golongan I dan II, untuk mencicipi bangku kuliah terbentur jarak dan biaya ke luar kota seperti Bandung, Jakarta, atau Yogyakarta.
Atas prakarsa para tokoh lokal dan dukungan penuh Pemerintahan Bupati Karawang Opon Sopandi, berdirilah cikal bakal perguruan tinggi ini.
“Unsika itu bagaimanapun awalnya adalah milik masyarakat Karawang. Unsika dilahirkan karena kebutuhan masyarakat Karawang pada zaman dahulu,” ujar Sony, Senin (14/9/2026), sebagaimana dilansir dari media online radarkarawang.
Ia secara tegas melayangkan kritik menohok kepada para pejabat kampus saat ini agar tidak bersikap eksklusif atau sekadar “mencari keuntungan” tanpa memikirkan kontribusi balik bagi masyarakat lokal.
“Jangan tidak perhatian sama masyarakat Karawang. Jangan datang ke Karawang cuma mau ngangkut saja. Ingat, Unsika itu harus dibangun,” tegasnya.
Kritik paling tajam diarahkan pada fasilitas fisik kampus yang dinilai jauh dari kata layak. Sony secara terbuka membongkar kondisi memprihatinkan salah satu fasilitas pembelajaran yang menggunakan bangunan kontainer.
Menurutnya, fasilitas tersebut tidak memenuhi standar kenyamanan maupun keselamatan akademis, mengingat suhu yang panas serta potensi bahaya cuaca ekstrem.
“Bangunan itu tidak layak. Sudah panas, jangankan mahasiswa, dosennya pun tidak betah mengajar di situ. Kalau ada petir bagaimana? Penangkal petirnya juga harus diperhatikan. Konstruksi bangunan harus layak,” ungkapnya.
Selain persoalan kelas kontainer, ia juga menyoroti aset lahan Unsika seluas sekitar 30 hektare yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.
Di tengah kepungan ribuan industri di Karawang, pimpinan rektorat didorong lebih agresif menjalin kolaborasi strategis dengan dunia usaha untuk mempercepat pembangunan fasilitas, laboratorium, hingga infrastruktur Fakultas Teknik.
Tak hanya infrastruktur, percepatan sumber daya manusia (SDM) berupa dorongan administratif dan finansial bagi para dosen untuk meraih gelar guru besar (profesor) turut menjadi catatan kritis agar tidak jalan di tempat.
Di usianya yang telah bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Unsika dinilai mulai kehilangan kedekatan emosional dengan publik Karawang. Sony menyayangkan sejarah otentik kampus yang kerap dikesampingkan dalam berbagai agenda resmi universitas, hingga membuat para pejabat struktural abai terhadap akar historisnya.
Ia pun mendesak agar Pemerintah Kabupaten Karawang bersama DPRD turut ambil bagian secara aktif mengalokasikan perhatian, baik melalui skema anggaran pembangunan fisik, pembenahan akses gerbang, pagar, hingga fasilitas penunjang laboratorium.
Bahkan, dalam proyeksi ke depan, proses suksesi kepemimpinan rektor Unsika dipandang perlu untuk melibatkan aspirasi masyarakat Karawang agar dipimpin oleh figur yang memiliki integritas, profesionalitas, dan kepedulian nyata terhadap daerah.
“Saya ngomong atas nama masyarakat Karawang, tetapi kebetulan saya juga lama di Unsika. Saya tahu persis Unsika dulu seperti apa dan Unsika hari ini seperti apa,” pungkasnya.
Reporter : Nina Melani Paradewi








