NASIONAL | ONEDIGINEWS.COM – Polemik internal kembali mencuat di lingkungan Pelajar Islam Indonesia (PII) setelah sebuah komentar yang diduga mengandung unsur fitnah seksual terhadap pimpinan perempuan organisasi tersebut beredar di media sosial dan menuai reaksi keras dari sejumlah kader.
Komentar tersebut diduga dilontarkan oleh Muhammad Abdurrafi Naufal, yang diketahui merupakan kader sekaligus bagian dari kepengurusan Pengurus Wilayah PII Sumatera Barat.
Pernyataan itu muncul di kolom komentar salah satu unggahan media sosial Pengurus Besar PII di akun @pbpii.official yang mengunggah postingan ucapan selamat kepada Melisa, Ketua Dewan Formatur Koordinator Pusat Korps PII Wati Periode 2026-2028 versi Muktamar PII di Palembang.
Komentar Naufal itu dinilai oleh sejumlah kader telah melampaui batas kritik organisasi karena mengarah pada serangan personal bernuansa seksual.
”Sampe pii Wati dirusaknya Marwah pii Wati dijual sekalian bongkar kamar yg biasa dipake sekawan buat kumpul k…? Astaghfirullah,” tulis Naufal melalui akun Instagram nya @m_abdurrafi_naufal .
Sejumlah kader menilai narasi yang disampaikan bukan lagi kritik konstruktif terhadap kepemimpinan, melainkan tuduhan yang berpotensi merusak martabat individu serta citra organisasi secara keseluruhan.
Salah satu kader PII Sumatera Selatan, Hardiansyah Abidin, menyampaikan bahwa kritik dalam organisasi merupakan hal yang wajar dan bahkan diperlukan.
Namun, menurutnya, kritik harus tetap berada dalam koridor etika dan nilai-nilai moral yang dijunjung oleh organisasi pelajar Islam.
“Kritik itu bagian dari tradisi intelektual kader. Tapi ketika sudah membawa isu seksual dan menyerang kehormatan perempuan, itu bukan lagi kritik, melainkan bentuk fitnah yang berbahaya,” ujar Hardiansyah saat dimintai keterangan, pada Minggu (15/2/2026).
Ia menambahkan bahwa penggunaan narasi bernuansa seksual dalam ruang publik tidak hanya melukai individu yang menjadi sasaran, tetapi juga berpotensi mencederai marwah organisasi yang selama ini dikenal menjunjung nilai adab dan akhlak dalam diskursus kaderisasi.
Menurut Hardiansyah, kader PII seharusnya mampu menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan perbedaan pandangan, terlebih ketika kritik ditujukan kepada pimpinan perempuan.
Ia menilai sensitivitas terhadap isu perempuan dan kekerasan verbal menjadi tanggung jawab bersama seluruh kader.
“PII adalah organisasi pelajar Islam. Cara menyampaikan kritik harus mencerminkan nilai Islam itu sendiri, beradab, objektif, dan tidak merendahkan martabat siapa pun,” tambahnya.
Polemik ini kemudian memicu diskusi luas di kalangan kader mengenai batas antara kebebasan berpendapat dan etika komunikasi di ruang digital.
Beberapa kader juga mendorong agar persoalan tersebut disikapi secara bijak melalui mekanisme organisasi guna mencegah konflik yang lebih luas.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat klarifikasi resmi dari pihak Naufal terkait komentar yang menjadi sorotan tersebut.
Sementara itu, sejumlah kader berharap polemik ini dapat menjadi refleksi bersama agar budaya kritik di internal organisasi tetap berjalan sehat tanpa mengarah pada serangan personal, apalagi yang bernuansa seksual terhadap perempuan.





