KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Sebuah unggahan video vlog di media sosial Facebook mendadak jadi sorotan publik.
Video yang diupload sekitar 23 jam yang lalu dengan caption Kang Dedi Mulyadi tersebut merekam keresahan Sekretaris Desa (Sekdes) Wanajaya, Hendar Rudianto, bersama seorang warga bernama Andrew, saat memantau langsung kondisi kawasan industri di Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Dalam vlog tersebut yang diunggah diakun Hendar Rudianto ini, keduanya membongkar ironi pahit yang dialami warga lokal (warga Desa Wanajaya), dikepung oleh investasi raksasa bernilai miliaran rupiah, namun angka pengangguran di desa sendiri tetap menjamur.
Sambil berlatarkan bangunan pabrik-pabrik besar, Hendar mengungkapkan bahwa Desa Wanajaya sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dengan keberadaan tiga kawasan industri besar sekaligus. Dimana sejumlah korporasi multinasional (pabrik-pabrik besar dan bonafit) dilaporkan tengah berdiri dan bersiap menyerap ribuan tenaga kerja di wilayah tersebut.
Hendar pun menyebutkan sejumlah nama perusahaan besar seperti, CATL , CATIB, hingga Smoothway.
“Dibelakang kita ini ada tiga pabrik besar seperti CATL, CATIB hingga Smoothway, pabrik produksi baterai mobil-mobil Cina,” kata Hendar dan Andrew.
Namun, potensi mega-industri itu menyisakan luka bagi warga setempat. Alih-alih terserap menjadi tenaga kerja, warga lokal justru mengaku sangat sulit menembus barikade rekrutmen perusahaan.
“Seperti yang tadi diceritakan, walaupun disini banyak pabrik tapi warga disini banyak yang nganggur, warga kita cukup sulit untuk masuk ke perusahaan tersebut, karena memang sampai detik ini ke pemerintahan desa pun tidak ada himbauan ataupun arahan untuk masuk ke perusahaan tersebut. Dan memang saya pun mengerti kalau memang kualifikasinya masyarakat di kita tidak mumpuni, tapi saya rasa ijasah SMA bisa ya hanya untuk masuk ke produksi mah. Tapi nyatanya memang sangat sulit, meski memang perusahaannya belum buka,” kata Andrew gamblang menimpali.
Hendar yang duduk disampingnya pun tampak terlihat turut mengamini hal tersebut.
Ada sekitar 6 perusahaan yang berdiri di Desa Wanajaya. Namun warga desanya masih banyak ngangur, Keduanya secara gamblang menyuarakan dugaan adanya permainan mafia tenaga kerja atau calo, baik dari pihak eksternal maupun oknum internal perusahaan.
Andrew menyebut, bahkan warga sekitar kerap kalah saing dengan tenaga kerja titipan bawaan pimpinan dari luar daerah yang sudah bekerja sebelumnya .
“Miris sekali, banyak calo-calo tenaga kerja yang menawarkan sejumlah uang yang besar untuk bisa bekerja diperusahaan -perusahaan tersebut, ketika warga kita mau mencari kerja pun sulit, harus dimintai uang oleh oknum baik internal maupun eksternal perusahaan,” ungkap mereka kompak.
“Inikan alih fungsi lahan, dimana lahan tempat mereka hidup dan bermain berubah alih fungsi menjadi perusahaan, namun mereka ingin bekerja pun susah. Minimal ketika lahannya tergusur, masyarakatnya pun harus makmur,” tambahnya seraya mencontohkan besarnya sebuah perusahaan yang mampu menampung ribuan karyawan sebagai tenaga kerja.
Lebih parah lagi, sistem rekrutmen berbasis digital seperti Online Single Submission (OSS) maupun portal tenaga kerja tingkat kabupaten/provinsi dinilai belum efektif berpihak pada warga ring satu desa.
Sistem tersebut diduga kerap dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menutup akses informasi bagi pihak pemerintahan desa.
“Kebanyakan ya gitu, ngambil dari luar karena ada uang (pelicin), sementara warga di sini ya tersingkirkan,” tegas Hendar.
Berkaca dari langkah tegas tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang sebelumnya sempat melakukan pendataan langsung sejak masa proyek di PT Deli (Deli Group), pihak Pemdes Wanajaya mendesak agar sistem transparansi serupa diterapkan di seluruh kawasan mereka.
“Program kang Dedi Mulyadi untuk PT. Deli kami mendukung. Semoga keluhan kami ini didengar oleh pak Gubernur Jawa Barat, betapa buruknya sistem rekruitmen tenaga kerja di wilayah Kabupaten Karawang,” ulasnya.
“Warga desa kami banyak nganggur
Dan ini untuk perusahaan yang ada seperti CATL, CATIB, Hyundai Exim, HITAC, Quwoon, jangan sampai warga kita menjadi penonton lagi” tegas mereka.
Di akhir video, mereka melayangkan pesan terbuka dan tuntutan kepada para pemangku kebijakan, mulai dari kepala daerah, Anggota DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI, hingga Gubernur Jawa Barat, khususnya kepada Bagian Ketenagakerjaan. untuk segera turun tangan membenahi karut-marut rekrutmen ini.
“Pernah bertanya nggak sih, kawasan sebesar ini, pabrik puluhan seperti ini, warga desa tersebut masih pada nganggur nggak? Mohon atensinya,” pungkas Hendar menutup vlognya.
Reporter : Nina Melani Paradewi
Sumber : Akun Facebook Hendar Rudianto







