KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Kondisi memprihatinkan menyelimuti proyek pembangunan Taman Ekoriparian dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang di Desa Pucung, Kecamatan Kotabaru.
Proyek bernilai miliaran rupiah dari uang rakyat tersebut kini disorot tajam karena kondisinya yang terbengkalai, nyatanya nyaris tak bisa diakses, hingga dituding mubazir oleh masyarakat setempat.
Berdasarkan data resmi pada Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) LKPP dan LPSE Kabupaten Karawang, proyek Belanja Modal Taman ini dikerjakan oleh CV Wirda Rahayu menggunakan dana APBD dengan pagu sebesar Rp1.553.524.500,00.
Alih-alih menjadi ruang edukasi hijau dan solusi pencemaran, area inti taman seluas kurang lebih 380 meter persegi tersebut kini dikepung semak belukar dan rumput liar.
Berdasarkan pantauan langsung *onediginews.com di lapangan, pipa-pipa paralon di sepanjang parit warga banyak yang ditemukan dalam kondisi patah, rusak, hingga terbenam lumpur.
Akibatnya, aliran air parit berwarna hitam pekat dan memicu bau busuk menyengat.
“Air paritnya hitam pekat begitu, bau menyengatnya luar biasa tercium sampai ke dalam rumah.
Kondisi ini semakin parah kalau musim hujan datang, air meluap dan warga sini jadi gatal-gatal,” keluh seorang ibu warga setempat dengan nada kesal.
Merespons tudingan miring tersebut, Kepala Bidang Pertamanan DLHK Kabupaten Karawang Agus mengarahkan awak media untuk mengkonfirmasikannya langsung kepada mantan Kabid Pertamanan DLHK Kabupaten Karawang yang kini menjabat sebagai Kabid Sarana Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang, Dede Pram. Pasalnya, pembangunan tersebut PPK-nya adalah Dede Pram.
Terpisah, Kamis (2/7/2026) Dede yang ditemui dikantornya, memberikan klarifikasi dan penjelasan utuh mengenai kondisi teknis serta kendala di taman Ekoriparian tersebut dilapangan.
Dede Pram menegaskan bahwa proyek pembangunan Taman Ekoriparian ini secara teknis telah selesai dikerjakan pada akhir tahun 2024.
Fasilitas ini dirancang sebagai Waste Water Treatment Plant (WTP) sentral untuk menyaring limbah domestik organik dari industri/pengrajin kulit agar air buangan yang hitam bisa kembali jernih sebelum masuk ke selokan.
“Awalnya proyek menggunakan teknologi plasma, namun karena komponennya sering dicuri, sistem akhirnya dimodifikasi menjadi metode yang lebih simpel menggunakan bak kolam-kolam pengendapan di sekeliling wilayah tersebut,” jelas Dede Pram.
Terkait besarnya anggaran, Dede meluruskan bahwa hal tersebut bukan karena harga satuan pipa yang mahal, melainkan karena volume kuantitas dan jalur pipa yang sangat panjang.
Pipa yang dipasang berdiameter besar, mulai dari 3 *inch* hingga 4 *inch* di bagian ujung.
Jalur pipa tersebut harus dipasang secara bercabang dan berkelok (zig-zag) mengikuti parit guna menjangkau rumah-rumah pengrajin kulit yang letaknya tersebar, mulai dari sisi rel kereta api hingga menuju ke area taman penampungan.
Dede Pram juga membeberkan alasan di balik banyaknya pipa yang patah serta hilangnya sejumlah fasilitas taman.
“Konsultan sengaja memilih pipa PVC biasa agar pemeliharaannya mudah dan murah. Namun saat musim hujan, volume air naik dan membawa sampah plastik yang menyumbat di dalam pipa. Sumbatan inilah yang menimbulkan beban berat hingga mematahkan paralon,” paparnya.
” Sisa pencucian kulit menghasilkan bulu dan minyak yang menyatu di dalam pipa. Jika tidak rutin digelontor, residu tersebut membeku dan memicu penyumbatan internal,” tambah Dede.
Lebih lanjut, Dede Pram menjelaskan bahwa sejak awal serah terima, fasilitas IPAL ini ditujukan untuk kemaslahatan para pengrajin kulit di wilayah tersebut.
Oleh karena itu, pemeliharaan harian seperti membersihkan sampah dan menyemprot saluran pipa seharusnya menjadi tanggung jawab dan kesadaran para pengrajin, bukan dibebankan sepenuhnya kepada dinas.
Sebagai solusi dan rencana tindak lanjut ke depan, Dede Pram menyarankan agar Kabid DLHK yang menjabat saat ini kembali mengundang para pengrajin kulit untuk bermusyawarah.
“Para pengrajin didorong untuk patungan secara swadaya membeli pipa paralon baru di material guna mengganti bagian-bagian pipa yang telah patah, agar saluran pengolahan limbah dapat berfungsi normal kembali,” pungkasnya.
Reporter : Nina Melani Paradewi








