KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Di saat pemerintahan daerah Kabupaten Karawang sedang menggelar Rapat Paripurna Istimewa merayakan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393, ironisnya, kemeriahan tersebut mendadak kontras dengan pemandangan di halaman gedung Kantor DPRD Kabupaten Karawang, Senin (14/9/2026).
Di tengah terik matahari yang membakar kulit, ratusan massa dari masyarakat Karawang Selatan bersama Mahasiswa, tumpah ruah menggelar aksi unjuk rasa.
Mereka datang bukan untuk ikut merayakan pesta ulang tahun kabupaten, melainkan membawa luka lama yang tak kunjung sembuh, salah satunya, Jalan Badami-Loji yang rusak parah dan mangkrak.
Suasana di depan gerbang kantor pemerintahan tersebut sempat memanas. Di dalam gedung, Rapat Paripurna istimewa tengah berlangsung khidmat dengan kehadiran para pejabat tinggi, mulai dari Gubernur Dedi Mulyadi, Bupati Karawang Aep Saepuloh, Wakil Bupati Maslani, Ketua DPRD Kabupaten Karawang Endang Sodikin, beserta jajaran legislatif dan eksekutif baik ditingkat kabupaten , propinsi hingga pusat.
Mendengar suara gemuruh di luar, para petinggi daerah ini memilih turun langsung menemui massa. Tanpa sekat dan protokol yang kaku, Gubernur Dedi Mulyadi bersama Bupati Aep Saepuloh dan jajaran pimpinan daerah lainnya memilih duduk bersila di atas panasnya aspal jalanan, berbaur bersama mahasiswa dan warga di bawah terik matahari yang menyengat.
Ketegangan sempat tak terhindarkan. Adu argumen antara mahasiswa yang membawa kekecewaan mendalam dengan penjelasan dari pihak pemerintah terjadi di tengah riuhnya suara pengeras suara. Kendati demikian, dialog terbuka itu tetap berjalan dalam koridor yang kondusif.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan delapan poin tuntutan utama yang dinilai sudah menjadi harga mati bagi mobilitas warga Karawang Selatan,
1. Mendesak Bupati Karawang segera merealisasikan janjinya untuk memperbaiki Jalan Badami-Loji.
2. Menetapkan tenggat waktu (deadline) yang jelas dan terbuka untuk penyelesaian perbaikan jalan tersebut.
3. Memperbaiki ruas jalan yang rusak dengan kualitas yang layak dan tahan lama.
4. Menindak tegas pihak-pihak yang terbukti menyebabkan atau memperparah kerusakan jalan.
5. Memeriksa dan menertibkan armada PT Jui Shin Indonesia yang melintasi Jalan Badami-Loji, khususnya terkait pelanggaran tonase dan dokumen analisis mengenai dampak lalu lintas (andalalin).
6. Merealisasikan pembangunan jalur khusus dari Exit Tol Bojongmangu menuju PT Jui Shin Indonesia demi mengurangi beban kendaraan industri di jalur umum.
7. Memastikan Jalan Badami-Loji kembali menjadi jalur yang aman, layak, dan berpihak pada keselamatan masyarakat.
8. Menuntut diterbitkannya Perda atau Perbup yang mengatur pemisahan jalur kendaraan industri khusus dengan jalur transportasi umum.
Dalam orasinya, perwakilan warga meluapkan kekecewaan mendalam. Selama berbulan-bulan, ruas Jalan Badami-Loji bak kubangan kerbau yang dilintasi truk-truk bertonase besar melebihi batas (overload).
Kondisi ini bukan hanya menghambat perekonomian, tetapi juga mengancam nyawa anak-anak sekolah, para pekerja, hingga ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari harus bertaruh nyawa demi mencari nafkah.
“Kami sudah menyuarakan ini bertahun-tahun! Tapi ke mana pemerintah saat kami kesulitan?” seru salah satu orator aksi di tengah kerumunan.
Menanggapi desakan tersebut, di hadapan para demonstran yang duduk bersimpuh di atas aspal, Gubernur Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) didampingi Bupati Aep memberikan respons tegas.
Ia menyampaikan komitmen penuhnya untuk mengawal dan memastikan keberlanjutan perbaikan infrastruktur jalan tersebut. Bagi Dedi, langkah ini merupakan bentuk komitmen mutlak demi menjamin keadilan sosial serta kenyamanan mobilitas warga Karawang Selatan yang selama ini merasa terabaikan.
Reporter : Nina Melani Paradewi








