spot_img
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img
spot_img
spot_img

POS TERKAiT

Becak Listrik Presiden Prabowo di Karawang, Antara Napas Lega Penarik Becak Lansia dan Ancaman Beban Baru di Dapur Mereka

spot_img

KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Senyum hangat tampak tersungging di wajah Pak Amo (64), seorang penarik becak senior yang telah mendedikasikan hidupnya mengayuh becak sejak tahun 1981, warga Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur yang sehari-hari rutin mangkal di Pasar Johar.

Di usianya yang tidak lagi muda, penghasilan harian pak Amo hanya berkisar Rp50.000, bahkan kurang, tergantung keramaian dan keberuntungan mendapatkan pelanggan.

Namun, secercah harapan dan napas lega baru saja menyapa hidupnya. Melalui program Yayasan Solidaritas Nasional (GSN) atas inisiatif Presiden Prabowo Subianto, Pak Amo

menjadi salah satu penerima bantuan becak listrik gratis yang disalurkan tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Berbekal informasi dari Ketua RT setempat serta lolos serangkaian uji kelayakan, ia kini resmi membawa pulang armada ramah tenaga tersebut.

Kehadiran becak listrik ini sejatinya membawa angin segar bagi para pengayuh lanjut usia. Seperti yang dijelaskan oleh perwakilan PT Pindad, Imam, program ini memang diarahkan langsung oleh Presiden untuk meringankan beban para pengemudi berusia 60 tahun ke atas agar tidak lagi harus menguras tenaga fisik mengayuh becak manual.

Bagi Pak Pamo, perbedaannya sangat terasa nyata. “Becak listrik ini tentu lebih memudahkan kita, tidak terlalu capek karena tidak perlu menggowes dengan tenaga sendiri,” ungkapnya.

Jika dulu becak manual terasa begitu berat di jalanan menanjak, terutama saat penumpang membawa banyak belanjaan atau barang bawaan, kini tenaga mesin meringankan laju kendaraan.

Kendati demikian, transisi dari tenaga otot ke tenaga listrik tidak serta-merta tanpa hambatan. Pak Amo mengaku sempat terkejut pada percobaan pertamanya.

“Awalnya kaget karena langsung ngegas sekaligus, jadi belum biasa. Kalau becak biasa kan gasnya pelan-pelan dulu, sedangkan becak listrik ini langsung ngacir begitu digas,” ceritanya, Rabu (23/9/2026), saat ditemui di Galeri Nyai Asih Pemkab Karawang.

Di balik rasa penasaran para pengemudi, PT Pindad merancang kendaraan ramah lingkungan ini dengan spesifikasi yang disesuaikan untuk kebutuhan rakyat kecil berdasarkan arahan Sekretariat Negara.

Imam memaparkan bahwa pihaknya menerima spesifikasi baku tanpa menghitung kalkulasi ekonomis secara mandiri, melainkan fokus pada pemenuhan kapasitas daya angkut dan standar jalan raya.

“Kami memang tidak sampai menghitung secara ekonomisnya… jadi kita hanya menerima spesifikasi dari Sekretariat Negara seperti untuk kemampuan daya angkut, kemudian kecepatan… dan kami membuat alat yang memenuhi spesifikasi tersebut,” jelas Imam.

Secara fisik, struktur becak ini menyerupai becak tradisional, namun menggunakan material pipa hollow yang berbeda dari becak biasa yang memakai besi behl. Kendaraan ini juga dilengkapi lampu depan, lampu belakang, lampu sein, hingga display kecepatan LCD.

Untuk ketahanan, Pindad mengklaim motor penggeraknya tahan banjir hingga kedalaman 1 meter serta komponen soket yang sudah anti air.

Dari sisi daya, becak ini dibekali baterai Lithium Mangan Fosfat (LFP) 48 volt 12,8 ampere hour. Imam merinci durasi dan cara perawatannya,

“Baterainya itu kita menggunakan baterai LFP, Lithium Mangan Fosfat… jadi dia durasi untuk penggunaannya itu bisa lebih lama… ada sekitar 2.000 kali pengecasan atau 3.000 kali pengecasan… bisa sampai 5 tahunan ya.” Jelas Imam.

“Kalau untuk mengisi baterai yang ini kurang lebih dari 0% itu 4 jam. Untuk pengoperasian supaya baterainya lebih hemat, itu jangan kurang dari 20%. Jadi setelah mau mencapai 20% baterainya, segera diisi ulang begitu.”tambahnya.

Dengan dukungan pedal assist (sambil digowes), jarak tempuh becak ini diklaim bisa mencapai 17 hingga 40 kilometer tergantung beban dan kontur jalan.

Meskipun niat mulia mengurangi beban lansia ini patut diacungi jempol terlihat dari total 220 unit becak listrik yang disalurkan khususnya di Kabupaten Karawang dan ratusan bahkan ribuan becak listrik juga ke berbagai daerah seperti Purwakarta, Bogor, Depok, Cimahi, hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur, realitas di lapangan tetap menyisakan sejumlah celah kritis yang perlu diwaspadai.

Diantaranya, Bagi Pak Amo yang menggunakan meteran listrik prabayar (token) di rumahnya, aktivitas pengisian daya (charging) baterai setiap hari tentu akan menggerus pengeluaran bulanan. Ketika pendapatan harian hanya berkisar Rp50.000, penambahan beban listrik sekecil apa pun akan berdampak langsung pada dapur keluarga.

Selain itu, Pihak Pindad juga menetapkan batas beban total yang ketat.

“Muatannya itu, jadi kalau total dengan pengendaranya itu 210 kg. Jadi kalau misalkan pengendaranya 70 kg, maka penumpang atau barangnya itu 140 kg.Jangan melebihi kapasitas yang sudah direncanakan spesifikasi, karena nanti juga berpengaruh ke konsumsi baterai, kemudian ke daya tahan dari peralatan yang lainnya,” tegas Imam.

Padahal, dalam realitas ekonomi jalanan,

penumpang kerap membawa barang belanjaan pasar ataupun barang bawaan lainnya. Pelanggaran batas muatan ini tentunya berisiko mempercepat kerusakan komponen.

Belum lagi, Dengan kecepatan yang langsung “ngacir” dan rute yang bercampur dengan kendaraan bermotor konvensional di jalan raya Karawang, keselamatan pengemudi lansia menjadi taruhan utama.

Meski Pihak Pindad sendiri telah memberikan imbauan agar operasionalnya mematuhi aturan Dinas Perhubungan setempat.

 

Reporter : Nina Melani Paradewi

Popular Articles

Popular Articles