KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Suasana di depan Gedung Rektorat Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) mendadak memanas, Kamis (1/10/2026).
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam civitas akademika Fakultas Agama Islam (FAI) UNSIKA mendatangi gedung rektorat guna mengawal jalannya proses investigasi serta mengklarifikasi pemberitaan miring yang beredar di tengah publik terkait kasus kekerasan fisik yang melibatkan mahasiswa rekan mereka.
Kedatangan mahasiswa FAI ini merupakan respons atas insiden dugaan penganiayaan dan intimidasi yang sebelumnya mencuat ke permukaan dan dilaporkan ke Polresta Karawang.

Kasus tersebut diduga berakar dari persaingan kaderisasi organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus.
Dalam aksi penyampaian aspirasi tersebut, perwakilan mahasiswa FAI, Aril, menegaskan bahwa kehadiran mereka di rektorat murni untuk mengawal penyelesaian masalah secara internal tanpa ada niat membela pelaku ataupun memojokkan korban.
“Kami sepakat mendatangi forum hari ini karena kami melihat adanya potensi penyelesaian masalah yang terkontaminasi oleh kepentingan kelompok tertentu dari pihak eksternal, seperti isu aksi yang sempat mencuat,” ujar Aril saat diwawancarai awak media, Kamis (1/10/2026).
Aril juga menambahkan bahwa pihaknya menyayangkan adanya disinformasi dan narasi yang berkembang di media sosial yang dianggap tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.
Ia memastikan mahasiswa FAI menyerahkan sepenuhnya proses penegakan disiplin dan etik kepada pihak birokrasi kampus serta Satuan Tugas (Satgas) yang berwenang.
“Kami datang secara damai untuk memastikan proses ini berjalan objektif. Kami tidak memihak pelaku maupun korban, dan kami menyerahkan penanganannya kepada pihak kampus secara transparan,” tegas Aril.
Sementara itu, terpantau dilokasi, Pihak pimpinan rektorat UNSIKA yang menemui massa aksi langsung membuka ruang dialog untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di lapangan.
Perwakilan kampus menjelaskan bahwa proses pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait tengah berlangsung secara bertahap sesuai prosedur pemanggilan resmi.
“Intinya, kami sedang melakukan pemanggilan, begitupun kepada korban dan kepada pelaku. Hanya saja, kesannya didapatkan oleh pendamping bahwa kalian seolah pro kepada pelaku karena kehadiran yang bersamaan,” ungkap pihak kampus saat audiensi.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan mahasiswa FAI langsung memberikan klarifikasi secara tegas untuk mematahkan tudingan miring yang mengarah kepada kelompok mereka.
“Izin sebelumnya ya. Ini kita datang ke sini memang kalau misalnya terlihat kesannya seperti membela pelaku, ya boleh silakan saja, anggap saja seperti itu, tapi tidak. Kita tidak membela pelaku, kita juga tidak memojokkan korban,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa FAI dalam forum tersebut.
Pihak rektorat juga menegaskan bahwa mereka telah menerima perwakilan mahasiswa FAI yang bertindak sebagai pengantar korban, bukan atas nama kelompok eksternal.
“Surat pemberitahuan aksi dari HMI sudah dicabut, tidak ada demo hari ini. Yang saya terima di dalam itu adalah teman-teman FAI yang mendampingi korban,” jelas perwakilan birokrasi kampus.
Lebih lanjut, pihak kampus mengimbau agar publik maupun mahasiswa tidak mudah percaya pada potongan informasi atau pemberitaan di media luar yang berpotensi menyudutkan institusi maupun mahasiswa FAI.
“Kita membuat statement resmi melalui official UNSIKA agar tidak dipotong-potong bagiannya dan akhirnya menyudutkan mahasiswa FAI serta kampus kita tercinta,” tambah pihak kampus.
Sebelumnya, kasus dugaan kekerasan fisik yang melibatkan kader organisasi mahasiswa ini telah resmi dilaporkan ke Polresta Karawang dengan nomor laporan STTLB/B/1099/IX/2026/SPKT/POLRESTA KARAWANG/POLDA JAWA BARAT.
Pihak kepolisian hingga kini masih mendalami keterangan dari para saksi serta mengumpulkan alat bukti guna mengusut tuntas insiden yang mencederai integritas dunia pendidikan tinggi tersebut.
Pihak rektorat memastikan sanksi tegas akan dijatuhkan apabila terbukti ada pelanggaran hukum maupun kode etik kemahasiswaan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa di lingkungan kampus UNSIKA.
Reporter: Nina Melani Paradewi







