BEKASI | ONEDIGINEWS.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi muncul pascabanjir. Imbauan tersebut disampaikan menyusul terjadinya banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, dr. Arief Kurnia, mengatakan bahwa penyakit pascabanjir umumnya mulai dirasakan masyarakat sekitar satu minggu setelah banjir surut. Kondisi tersebut dipicu oleh paparan air kotor, lumpur, serta material lain yang terbawa banjir.
“Banjir tahun ini cukup besar dan membawa lumpur serta berbagai material lainnya. Penyakit yang sering dialami warga antara lain infeksi saluran pernapasan atas, batuk, pilek, demam, diare, gangguan kulit seperti dermatitis dan gatal-gatal, serta kelelahan yang menyebabkan pegal-pegal dan kelemahan otot,” ujarnya.
Memasuki musim penghujan yang masih melanda wilayah Kabupaten Bekasi, Dinkes terus mengingatkan masyarakat agar menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah utama pencegahan penyakit pascabanjir.
Sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, Dinkes Kabupaten Bekasi telah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk membentuk posko kesehatan, khususnya di wilayah terdampak banjir, guna mendekatkan layanan kesehatan kepada warga.
“Kami mengimbau masyarakat, terutama yang terdampak banjir, agar menjaga kesehatannya, memeriksakan diri ke posko kesehatan di puskesmas maupun posko pengungsian, serta menjaga kebersihan rumah pascabanjir,” kata dr. Arief.
Ia menyampaikan bahwa saat ini banyak warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, dan penyakit kulit. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak berendam di air banjir dan selalu menjaga kebersihan tubuh, khususnya kulit.
Terkait penyakit demam berdarah dengue (DBD), dr. Arief menyebut hingga saat ini belum ditemukan laporan kasus di wilayah terdampak banjir. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk melakukan langkah-langkah pencegahan.
“Untuk pencegahan DBD, masyarakat diimbau rutin menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila ditemukan kasus DBD di suatu wilayah, masyarakat diminta segera melaporkan ke puskesmas terdekat agar dapat dilakukan penanganan lebih lanjut, termasuk fogging terbatas.
Lebih lanjut, dr. Arief mengakui bahwa pada musim penghujan terjadi peningkatan jumlah pasien dengan gangguan kesehatan di rumah sakit dan puskesmas. Namun kondisi tersebut masih dapat ditangani dan tidak termasuk kategori penyakit berbahaya.
Selain itu, masyarakat terdampak banjir juga diimbau menjaga daya tahan tubuh dengan asupan makanan dan minuman yang cukup. Dinkes memastikan ketersediaan obat-obatan di puskesmas dan puskesmas pembantu (Pustu) dalam kondisi aman.
“Jika mengalami keluhan kesehatan, masyarakat diharapkan segera mendatangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Untuk layanan kegawatdaruratan, masyarakat dapat menghubungi Call Center 119 PSC atau Call Center 112 dengan menekan tombol 2,” pungkasnya.





