SUMEDANG | ONEDIGINEWS.COM | Memasuki awal musim penghujan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sumedang menggerakkan langkah antisipasi strategis melalui normalisasi saluran air, pemulihan fungsi ekologi, dan penanaman ribuan pohon guna mencegah potensi bencana serta menjaga kelestarian lingkungan.
Gerakan penanggulangan tersebut memerlukan kesadaran kolektif, gotong royong, serta kolaborasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, instansi, hingga dunia usaha di wilayah Kabupaten Sumedang.
Kepala DLHK Kabupaten Sumedang, Drs. Maman Wasman, mengungkapkan bahwa permasalahan klasik di musim hujan seperti luapan air dan banjir kerap dipicu oleh tersumbatnya aliran sungai akibat tumpukan sampah.
“Ada beberapa permasalahan di musim hujan itu akibat dari ketidakpedulian semua pihak di lingkungan, orang buang sampah sembarangan ke sungai. Akhirnya ketika musim hujan, aliran sungai terhalang, terbendung oleh sampah,” ungkap Maman, saat di konfirmasi, Rabu siang (04/11/2026).
Ia menegaskan bahwa urusan lingkungan hidup bukan sekadar tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga.
“Urusan lingkungan hidup ini perlu kesadaran kolektif dari semua pihak. Kuncinya tadi, perlu adanya kesadaran kolektif dari semua pihak untuk menjaga, merawat lingkungan. Bukan hanya tugas pemerintah, karena kita hidup di bumi Sumedang ini untuk kita sendiri. Lamun teu ku urang, rek ku saha deui?” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi dini, DLHK Sumedang telah menggiatkan normalisasi drainase dan sungai secara gotong royong dan kolaborasi lintas sektor sejak satu bulan ke belakang. Normalisasi perkotaan mencakup pembersihan saluran air di kawasan Jl. Serma Muchtar.
Sementara itu, di Kecamatan Jatinangor, DLHK berkolaborasi bersama unsur Brimob, pemerintah kecamatan, serta pemerintah desa untuk membersihkan saluran di Desa Sayang, Hegarmanah, Jatimukti, Jatimulya, hingga Cintamulya dengan mengerahkan personel serta armada pengangkut sampah. Adapun aksi bersih sampah (ngalampah) yang telah di laksanakan diantaranya di wilayah Kecamatan Cimalaka mulai dari Desa Nyalindung, Trunamanggala, wilayah sekitar Yonif, hingga area Sumedang utara.
Maman menegaskan bahwa meskipun sumber daya internal DLHK terbatas, hal tersebut tidak menjadi halangan berkat adanya jejaring (networking) serta kolaborasi aktif.
“Berbagai cara kita lakukan, karena kita sadar sumber daya kita terbatas. Tapi kan kita masih banyak jejaring, masih banyak networking, masih banyak pihak-pihak yang peduli. Tinggal kita mau turun, mengajak mereka-mereka ini untuk berkolaborasi agar Sumedang lingkungannya lebih bagus lagi,” ujar Maman.
Poin penting kedua yang menjadi fokus DLHK di musim penghujan ini adalah penanaman ribuan pohon di lahan-lahan kritis guna mengikat tanah, menghasilkan oksigen, serta menyerap gas beracun. Momentum musim penghujan dimanfaatkan secara maksimal karena proses penyiraman tanaman sangat bergantung pada kondisi alam.
“Fungsi pohon itu pertama untuk mengikat tanah, kedua menghasilkan oksigen, ketiga menyerap gas-gas beracun, karbondioksida, karbonmonoksida dari pembakaran energi fosil kendaraan dan lainnya. Makanya setiap musim hujan, kita melakukan gerakan penanaman di lahan-lahan kritis,” jelas Maman.
Berdasarkan rencana Kadis DLHK Maman menyampaikan bahwa pada musim penghujan tahun ini, fokus perbaikan fungsi ekologi dipusatkan di lahan belakang kampus IPDN, Jatinangor.
“Dua minggu lalu, Bapak Bupati bersama saya sudah bertemu dengan pihak IPDN yang menawarkan lahannya untuk ditanami. Minggu ini kami sedang tahap konsolidasi dengan IPDN untuk memastikan luasan hektare lahan yang siap, titik lokasi pastinya, jenis pohon yang cocok, serta pihak mana saja yang akan dilibatkan secara masif. Kita juga menggandeng Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat melalui Cabang Dinas Kehutanan (CDK) serta kalangan korporasi dan swasta untuk penyediaan ragam bibit mulai dari tanaman keras kayu-kayuan, buah Multi Purpose Tree Species (MPTS), hingga konsep agroforestri seperti kopi,” papar Maman.
Sebagai bentuk kepedulian nyata dari lingkup terkecil, Maman turut mengajak masyarakat untuk proaktif memanfaatkan limbah biji buah-buahan sisa konsumsi.
“Biji-bijian, limbah biji sampah biji-bijian, biji rambutan, kumpulkan di rumah, cuci, keringkan, semai! Nanti tanam di sisi bantaran sungai (sisi walungan), maupun di area tebing rawan (gawir),” pungkas Maman.
Reporter : Rizky Prasetyo








