KARAWANG | ONEDIGINEWS.COM | Ribuan massa yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Jawa Barat bersama Karang Taruna menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di area PT Pertiwi Lestari, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Senin (6/4/2026).
Aksi ini dipimpin langsung oleh Ketua APDESI Jawa Barat, Sukarya WK, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Wanasari. Dengan Ketua DPC APDESI Kabupaten Karawang Margono (Kepala Desa Mulyasari) sebagai Koordinator Aksi.
Ribuan perangkat desa dari berbagai daerah di Jawa Barat ini datang untuk menyuarakan solidaritas atas dugaan tindak kekerasan yang menimpa putri kandung Sukarya WK, yang juga merupakan perangkat Desa Wanasari, dan sejumlah perangkat desanya yang lainnya, yang terjadi sekitar satu mingguan yang lalu, serta menolak aktivitas ilegal perusahaan di atas tanah kas desa.

Dalam audiensi yang berlangsung emosional, dihadapan Sekretaris APDESI Jawa Barat dan sejumlah perwakilan Kepala Desa dan Pertiwi Lestari dan pihak terkait lainnya, Sukarya WK membeberkan kronologi tindakan brutal oknum ormas dan oknum keamanan perusahaan.
Ia mengungkapkan bahwa kedatangan aparatur desanya ke perusahaan awalnya didasari niat baik untuk berdialog setelah dua surat resmi yang dikirimkan pihak desa tidak kunjung mendapat jawaban dari manajemen.
Namun, sesampainya di lokasi, rombongan justru dihadang oleh oknum sekutiti berpakaian preman. Di tengah situasi tersebut, putri Sukarya WK juga turut mengalami pemukulan tepat di depan mata ayahnya sendiri.

“Anak saya yang perempuan malah dipukul di depan mata saya sendiri! Videonya ada, Pak. Kalau ini terjadi sama Bapak-bapak sekalian, marah tidak?” tegas Lurah WK sapaan akrabnya dengan nada tinggi.
Berdasarkan surat pemberitahuan aksi nomor 01/DPD-AMP JABAR/III/2026, massa pun melayangkan dua poin tuntutan utama,
* Supremasi Hukum atas Penganiayaan: Mendesak manajemen untuk memproses hukum oknum satpam maupun pihak-pihak yang terlibat dalam aksi pemukulan.
Sukarya menekankan bahwa tindakan ini telah melukai marwah aparatur desa di seluruh Jawa Barat.
* Legalitas Lahan Kas Desa:
Menolak kegiatan galian kabel optik sepanjang 1,2 kilometer yang melintasi tanah kas desa tanpa izin resmi.
Sukarya menyebut tindakan ini sebagai bentuk penyerobotan aset desa yang telah berlangsung sejak tahun 2019 dan 2021.
Menanggapi tekanan massa, pihak manajemen PT Pertiwi Lestari yang diwakili oleh Dwi menyatakan permohonan maaf yang mendalam atas insiden kekerasan tersebut.
Pihak perusahaan mengklaim bahwa tindakan brutal oknum keamanan tersebut berada di luar prosedur tetap (Protap) perusahaan.
“Dari Pertiwi Lestari sama sekali tidak akan menghalang-halangi karena itu proses yang harus ditempuh secara pidana. Agar menjadi lebih fair dan jelas perkaranya,” ujar Dwi.
Terkait sengketa lahan, perusahaan menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak provider kabel optik untuk segera mengurus perizinan sesuai prosedur desa.
Dalam kesempatan tersebut, Sukarya WK memperingatkan bahwa jika tuntutan mereka tidak segera dieksekusi, solidaritas dari 5.312 desa di Jawa Barat akan terus bergerak.
Ia menegaskan bahwa kekuatan desa adalah fondasi negara yang tidak boleh disepelekan.
Reporter : Nina Melani Paradewi





